Rabu, 10 April 2013

Aspek Aspek Kepribadian


     Ada banyak opini mengenai faktor perubahan kepribadian. Mayoritas lebih menganggap bahwa apa yang disampaikan oleh Abraham Maslow yang mengembangkan teori kepribadian di dunia barat lebih bisa dipahami. Kita bisa saja memahami sesuatu, tapi melupakan yang lain. Cobalah tengok Al Qur'an dan Al Hadits yang benar-benar bisa menjadi acuan bagi umat muslim. Seperti halnya apa yang menjadi pandangan Imam Al-Ghazali mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kepribadian manusia. Beliau menggunakan pendekatan tasawuf untuk mengungkap hakikat dan perilaku manusia melalui metode teosentris terhadap Al-Quran dan Al-Hadist. Dari berbagai pemikiran beliau, adalah konsep tentang fitrah atau al-Nafs al-Rabbaniyyah yang lebih membahas tentang motivasi. Berbeda dengan yang disampaikan oleh Abraham Maslow yang terkenal dengan teori humanisticnya atau teori basic needs ( kebutuhan dasar ) dan meta needs ( kebutuhan meta ). Lebih digamblangkan lagi yang mungkin setiap orang pernah tau adalah teori kebutuhan Maslow, begitu terkenalnya teori ini. Ya, sekali lagi itu yang disampaikan oleh Abraham Maslow cukup berbeda dengan yang disampaikan Al-Ghazali. Menurut Imam Al-Ghazali ada 3 aspek kepribadian yang disebut sebagai fitrah, yaitu:
·       Nafsu ( impuls primitif )
·       Akal ( rasionalistik )
·       Qolbu ( spiritual )

A.  Nafsu
    Nafsu merupakan elemen jiwa yang mendorong pada tabi’at badaniyah yang bersifat persuasif untuk berperilaku baik atau buruk. Nafsu juga dapat dikaitkan sebagai insting dan mempunyai tingkatan-tingkatan. Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yang dikenal dengan istilah “marotibun nafsi” yaitu terdiri dari:

1.  Nafsu Amaroh
    Nafsu amaroh tempatnya adalah “Ash-shodru” artinya dada. Adapun pasukan-pasukannya adalah Al-Bukhlu artinya kikir atau pelit, Al-Hirsh artinya tamak atau rakus, Al-Hasad artinya hasud, Al-Jahl artinya bodoh, Al-Kibr artinya sombong dan Asy-Syahwat artinya keinginan duniawi.

2.  Nafsu Lawwamah
     Nafsu lawwamah tempatnya adalah “Al-qolbu” artinya hati, tepatnya dua jari di bawah susu kiri. Adapun pasukan-pasukannya adalah Al-Laum artinya mencela, Al-Hawa artinya bersenang-senang, Al-Makr artinya menipu, Al-Ujb artinya bangga diri, Al-Ghibah artinya mengupat, Ar-Riya’ artinya pamer amal, Az-Zulm artinya zalim, Al-Kidzb artinya dusta, dan Al-ghoflah artinya lupa.

3.  Nafsu Mulhimah
    Nafsu mulhimah tempatnya adalah “Ar-ruh” tepatnya dua jari di bawah susu kanan. Adapun pasukan-pasukannya adalah As-Sakhowah artinya murah hati, Al-Qona’ah artinya merasa cukup, Al-Hilm artinya murah hati, At-Tawadhu’ artinya rendah hati, At-Taubat artinya taubat atau kembali kepada Alloh, As-Shobr artinya sabar, dan At-Tahammul artinya bertanggungjawab.

4.  Nafsu Muthmainnah
     Nafsu muthmainnah tempatnya adalah “As-Sirr” artinya rahasia, tepatnya dua jari dari samping susu kiri kea rah dada. Adapun pasukan-pasukannya adalah Al-Juud artinya dermawan, At-tawakkul artinya berserah diri, Al-Ibadah artinya ibadah, Asy-Syukr artinya syukur atau berterima kasih, Ar-Ridho artinya rido, dan Al-Khosyah artinya takut akan melanggar larangan.

5.  Nafsu Rodhiyah
     Nafsu rhodiyah tempatnya adalah “Sirr Assirr” artinya sangat rahasia, tepatnya di jantung yang berfungsi menggerakkan seluruh tubuh. Adapun pasukan-pasukannya adalah Al-Karom, Az-Zuhd artinya zuhud atau meninggalkan keduniawian, Al-Ikhlas artinya ikhlas atau tanpa pamrih, Al-Waro’ artinya meninggalkan syubhat, Ar-Riyadhoh artinya latihan diri, dan Al-Wafa’ artinya tepat janji.

6.  Nafsu Mardhiyah
    Nafsu mardhiyah tempatnya adalah “Al-khofiy” artinya samar, tepatnya dua jari dari samping susu kanan ke tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya adalah Husnul Khuluq artinya baik akhlak, Tarku maa siwalloh artinya meninggalkan selain Allah, Al-Luthfu bil kholqi artinya lembut kepada makhluk, Hamluhum ‘ala sholah artinya mengurus makhluk pada kebaikan, Shofhu ‘an dzunubihim artinya mema’afkan kesalahan makhluk, dan Al-Mail ilaihim liikhrojihim min dzulumati thoba’ihim wa anfusihim ila anwari arwahihim artinya mencintai makhluk dan cenderung perhatian kepada mereka guna mengeluarkannya dari kegelapan (keburukan) watak dan jiwa-jiwanya ke arah bercahayanya ruh-ruh mereka.

7.  Nafsu Kamilah
   Nafsu kamilah tempatnya adalah “Al-Akhfa” artinya sangat samar, tepatnya di tengah-tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya adalah, Ilmu Al’Yaqiin,  Ainul Yaqiin, dan Haqqul Yaqiin.

B. Akal (Realistik Rasionalistik)
   Akal berasal dari bahasa arab, al-‘aql. Kata al-‘aql adalah mashdar dari kata ‘aqola – ya’qilu – ‘aqlanyang maknanya adalah “fahima wa tadabbaro“ yang artinya “paham (tahu, mengerti) dan memikirkan (menimbang)“. Maka al-‘aql, sebagai mashdarnya, maknanya adalah “kemampuan memahami dan memikirkan sesuatu“. Sesuatu itu bisa ungkapan, penjelasan, fenomena, dan lain-lain, semua yang ditangkap oleh panca indra.

C. Qolbu (Spiritual)
    Qolbu adalah sebuah latifah dimensi ketuhanan yang tidak mempunyai bentuk fisik. Tidak ada yang tahu dimana letak qolbu sebenarnya, yang dapat diketahui adalah implementasi dari qolbu yang berupa akhlak. Qolbulebih mengarah pada jati diri seseorang yang murni.

   Jika dibandingkan, pemahaman terhadap hakekat manusia menurut Al-Ghazâli melalui pendekatan tasawuf dan pendekatan barat (Maslow) melalui pendekatan ilmiah tampaknya memiliki pandangan yang sama, yaitu memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi-potensi baik dan mampu diaktualisasikan sehingga mencapai manusia sempurna (al-insân al-kamîl).
   Tujuan pengembangan kepribadian menurut Ghazali mengarah pada pembentukan individu yang memiliki konsistensi iman, islam, ibadah dan mu’amalah untuk mendapat ridha Alloh. Dalam kepribadian, menurut Ghazali, faktor keturunan sebagai salah satu penentu kepribadian. Ghazali menekankan teorinya pada konsep kepribadian Muthmainnah. Kepribadian Muthmainah yang mengantarkan manusia pada eksistensi sebenarnya sebagai hamba Alloh. Faktor utama yang mempengaruhi kepribadian menurut Ghazali adalah keluarga dan interaksi sosial.. Pandangan Al-Ghazali tentang pendidikan lebih cenderung pada pendidikan moral dengan pembinaan budi pekerti dan penanaman sifat-sifat keutamaan pada anak didik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar